SPIRITUALITAS PRIBADI

1.      Jelaskan pemahaman teoretis Anda tentang “Spiritualitas Pribadi” dan apa pentingnya bagi Anda ?

Pemahaman teoritis saya tentang Spiritualitas Pribadi adalah sebagai berikut.

Secara etimologis, spiritualitas didefinisikan sebagai Tischler (2002) mengatakan bahwa spiritualitas mirip atau dengan suatu cara, berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap tertentu dari seorang individu. Menjadi seorang yang spiritual berarti menjadi seorang yang terbuka, memberi, dan penuh kasih.

Spiritualitas adalah kebutuhan bawaan manusia untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri manusia itu. Istilah ”sesuatu yang lebih besar dari manusia”adalah sesuatu yang diluar diri manusia dan menarik perasaan akan diri orang tersebut.

Spiritualitas sendiri kemudian saya definisikan sebagai naluri manusia terhadap kekuatan supranatural di sekitar manusia, sebagai pusat pengendali hidup.

Pada hakikatnya, spiritualitas jauh berkembang sebelum adanya agama dan tokoh-tokoh keagamaan. Bahkan Abraham (Bapa orang beriman), lahir dari zaman spiritualitas dan hidup di dalamnya. Sebagai orang beriman, Abraham merupakan tokoh panutan yang sangat baik dan penting sekali untuk saya dapat teladani.

Di dalam hidup kita harus mengalami perkembangan/kemajuan bukan penyusutan/kemunduran. Atas dasar itu, saya dengan tegas menyatakan bahwa beragama saja tidak cukup, bahwa beragama saja akan sia-sia akhirnya.

Kehidupan kita sebagai warga beragama sah secara hukum/public, harus diimbangi dengan spiritualitas pribadi kita. Jadi setidaknya, orang-orang sekitar kita dapat melihat kemuliaan dan kemenangan Tuhan dalam hidupnya. Istilahnya, dengan kualitas spiritualitas pribadi yang kita punya, kita masih tetap dapat berbagi kasih bagi sesama.

~(SANGAT PENTING!)

2.      ”Akal budi penting dalam mengembangkan Spiritualitas Pribadi”! Jelaskan maksud pernyataan ini!

Dalam mengembangkan Spiritualitaas Pribadi, ada batasan-batasan yang dapat dan harus kita turuti karena sebagai manusia kita harus menghormati hak-hak orang lain. Tentu saja itu semua harus sesuai dengan akal budi. Contohnya begini. Manusia, pada hakikatnya menjadi berbeda dengan makhluk hidup lain adalah karena keberadaan Akal Budi. Dengan akal budi tersebut, manusia diharapkan untuk mampu hidup secara rasional, wajar dan normal, sehingga tujuan hidup dalam perdamaian/sejahtera abadi dapat terwujud.

Atas penjelasan diatas, akal budi sangatlah penting dalam mengembangkan Spritualitas Pribadi. Baik sebagai sarana maupun fasilitas, akal budi telah menjadi inti dari setiap kegiatan manusia, bahkan kegiatan dasar yaitu ‘berpikir’ pun muncul dari keberadaan akal budi dalam kehidupan kita. Cogito ergo sum! Penting sekali bukan? Penting untuk kepentingan bersama. Penting karena itu adalah hakikat/esensi hidup kita sebagai mahkluk hidup yang bernama Manusia(alkitab Kitab Kejadian(taurat Musa)).

3.      Bagaimana Anda menggunakan/memanfaatkan Agama sebagai sarana untuk mengembangkan spiritualitas pribadimu? Nilai spiritual pribadi apa yang mau Anda kembangkan di dalam dirimu? (Jelaskan secara argumentatif disertai contoh spesifik!)

~Albert Einstein berkata – Agama tanpa ilmu adalah hampa, ilmu tanpa agama adalah buta.

Ini menjelaskan satu hal yang pasti bagi kita semua bahwa dalam meraih/ mencapai harkat hidup manusia, tak bisa hanya timpang dalam satu bidang saja! Mis: agama saja, IPTEK saja, Seni saja, Musik saja, keluarga saja, dsb. Namun harus diimbangi pula dengan porsi-porsi yang seimbang dari masing-masing aspek kehidupan.

Akar dari hidup orang beriman adalah spiritualitas. Sedangkan agama hanyalah dampak dari kegiatan spiritualitas yang telah ada ribuan tahun lalu, jauh sebelum agama terbentuk. Jadi sudah sewajarnya kalau agama hanya merupakan sarana untuk memanfaatkan/mengembangkan spiritualitas kita. Tak ada yang lebih tinggi dari keduanya, semuanya seimbang, sejajar, berada dalam satu pohon namun berbeda bagian. Kemajuan dari salah satu aspek tersebut, dapat berdampak luar biasa bagi kualitas hidup dari pribadi yang bersangkutan.

Bagaimana caranya? Simple menurut saya. Ora et Labora. Dengan beragama, sudah selayaknya hidup kita menjadi terarah dan terfokus kepada Tuhan. Lalu sesuai dengan agama kita, kita mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan dan terciptalah suatu keharmonisan antar umat (sesama beragama). Doa dan bekerja, merupakan salah satu analogi yang dapat saya gunakan untuk memperjelas kaitan antara agama, spiritualitas dan kegunaannya/manfaatnya. Doa merupakan sarana kita untuk menjaga keiintiman relasi dengan Allah, sedangkan bekerja adalah sarana/fasilitas kita -yang diberikan Allah sebagai jawaban atas doa kita-, untuk mengabulkan segala permohonan kita sesuai dengan kehendakNya.

Nah, dalam bekerja itu sendiri, Allah mengaruniakan segudang talenta yang dapat kita kembangkan atau pun siap pakai, untuk mewujudkan karya Allah di dunia. Kita tak perlu bekerja untuk hidup karena kita hidup untuk bekerja. Hakikat dari kehidupan kita hanyalah bekerja (bekerja di ladangNya). Kita tak perlu bekerja untuk hidup karena sesungguhnya, jika kita hidup di dalamNya dan Ia di dalam kita, Dia lah yang akan mencukupkan segala kebutuhan kita untuk dapat bertahan hidup. Sgala hal yang perlu kita lakukan hanyalah bekerja-bekerja-&bekerja.

Relevansinya untuk kehidupan saya pribadi adalah talenta saya yang ingin saya kembangkan yaitu sebagai berikut.

a.       Bermusik

Dalam hal ini, saya mampu untuk memainkan sgala type of music yang ada dengan alat musik umum apapun yang ada, seperti: Gitar, Keyboard, Bass, Harmonika, Recorder, Piano, dsb.

b.      Memimpin

Dalam hal memimpin, berarti mencakup dua aspek utama yaitu: pemimpin dan terpimpin. Konkretnya adalah saya merupakan Komti dari 02PKT CB dan saya memimpin seluruh anggota kelas saya dan bertanggung jawab atas mereka.

c.       Melayani

Dalam hal melayani yang saya maksudkan disini adalah melayani Tuhan di tempat-tempat ibadah tertentu atau pun di persekutuan interdenominasi manapaun. Dan saya sudah menjadi pelayanan di PO Binus sebagai pemusik serta operator slide.

 

Dari ketiga point abc diatas, saya dengan tegas menyatakan bahwa hal-hal tersebutlah yang dapat saya kembangkan untuk meningkatkan kualitas spiritual pribadi. Untuk itu saya merangkum beberapa nilai-nilai yang erat berkaitan dengan talenta saya diatas.

a.       Kreativitas, ketulusan, kebersamaan, ketaatan.

b.      Kedisiplinan, ketegasan, kekuatan, kebijaksanaan, pengorbanan, kesetiaan.

c.       Kerendahan hati, keikhlasan, kepercayaan, iman, pengharapan, kasih, penguasaan diri.

BERITA BINUS : Mahasiswa BINUS University menjadi Satu-Satunya dan Pertama Mewakili Asia Pasifik dalam Konferensi Pengembangan Aplikasi Tingkat Dunia

Renungan Pribadi (Ask-Answer)

SPIRITUALITAS PRIBADI

1.      Jelaskan pemahaman teoretis Anda tentang “Spiritualitas Pribadi” dan apa pentingnya bagi Anda ?

Pemahaman teoritis saya tentang Spiritualitas Pribadi adalah sebagai berikut.

Secara etimologis, spiritualitas didefinisikan sebagai Tischler (2002) mengatakan bahwa spiritualitas mirip atau dengan suatu cara, berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap tertentu dari seorang individu. Menjadi seorang yang spiritual berarti menjadi seorang yang terbuka, memberi, dan penuh kasih.

Spiritualitas adalah kebutuhan bawaan manusia untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri manusia itu. Istilah ”sesuatu yang lebih besar dari manusia”adalah sesuatu yang diluar diri manusia dan menarik perasaan akan diri orang tersebut.

Spiritualitas sendiri kemudian saya definisikan sebagai naluri manusia terhadap kekuatan supranatural di sekitar manusia, sebagai pusat pengendali hidup.

Pada hakikatnya, spiritualitas jauh berkembang sebelum adanya agama dan tokoh-tokoh keagamaan. Bahkan Abraham (Bapa orang beriman), lahir dari zaman spiritualitas dan hidup di dalamnya. Sebagai orang beriman, Abraham merupakan tokoh panutan yang sangat baik dan penting sekali untuk saya dapat teladani.

Di dalam hidup kita harus mengalami perkembangan/kemajuan bukan penyusutan/kemunduran. Atas dasar itu, saya dengan tegas menyatakan bahwa beragama saja tidak cukup, bahwa beragama saja akan sia-sia akhirnya.

Kehidupan kita sebagai warga beragama sah secara hukum/public, harus diimbangi dengan spiritualitas pribadi kita. Jadi setidaknya, orang-orang sekitar kita dapat melihat kemuliaan dan kemenangan Tuhan dalam hidupnya. Istilahnya, dengan kualitas spiritualitas pribadi yang kita punya, kita masih tetap dapat berbagi kasih bagi sesama.

~(SANGAT PENTING!)

2.      ”Akal budi penting dalam mengembangkan Spiritualitas Pribadi”! Jelaskan maksud pernyataan ini!

Dalam mengembangkan Spiritualitaas Pribadi, ada batasan-batasan yang dapat dan harus kita turuti karena sebagai manusia kita harus menghormati hak-hak orang lain. Tentu saja itu semua harus sesuai dengan akal budi. Contohnya begini. Manusia, pada hakikatnya menjadi berbeda dengan makhluk hidup lain adalah karena keberadaan Akal Budi. Dengan akal budi tersebut, manusia diharapkan untuk mampu hidup secara rasional, wajar dan normal, sehingga tujuan hidup dalam perdamaian/sejahtera abadi dapat terwujud.

Atas penjelasan diatas, akal budi sangatlah penting dalam mengembangkan Spritualitas Pribadi. Baik sebagai sarana maupun fasilitas, akal budi telah menjadi inti dari setiap kegiatan manusia, bahkan kegiatan dasar yaitu ‘berpikir’ pun muncul dari keberadaan akal budi dalam kehidupan kita. Cogito ergo sum! Penting sekali bukan? Penting untuk kepentingan bersama. Penting karena itu adalah hakikat/esensi hidup kita sebagai mahkluk hidup yang bernama Manusia(alkitab Kitab Kejadian(taurat Musa)).

3.      Bagaimana Anda menggunakan/memanfaatkan Agama sebagai sarana untuk mengembangkan spiritualitas pribadimu? Nilai spiritual pribadi apa yang mau Anda kembangkan di dalam dirimu? (Jelaskan secara argumentatif disertai contoh spesifik!)

~Albert Einstein berkata – Agama tanpa ilmu adalah hampa, ilmu tanpa agama adalah buta.

Ini menjelaskan satu hal yang pasti bagi kita semua bahwa dalam meraih/ mencapai harkat hidup manusia, tak bisa hanya timpang dalam satu bidang saja! Mis: agama saja, IPTEK saja, Seni saja, Musik saja, keluarga saja, dsb. Namun harus diimbangi pula dengan porsi-porsi yang seimbang dari masing-masing aspek kehidupan.

Akar dari hidup orang beriman adalah spiritualitas. Sedangkan agama hanyalah dampak dari kegiatan spiritualitas yang telah ada ribuan tahun lalu, jauh sebelum agama terbentuk. Jadi sudah sewajarnya kalau agama hanya merupakan sarana untuk memanfaatkan/mengembangkan spiritualitas kita. Tak ada yang lebih tinggi dari keduanya, semuanya seimbang, sejajar, berada dalam satu pohon namun berbeda bagian. Kemajuan dari salah satu aspek tersebut, dapat berdampak luar biasa bagi kualitas hidup dari pribadi yang bersangkutan.

Bagaimana caranya? Simple menurut saya. Ora et Labora. Dengan beragama, sudah selayaknya hidup kita menjadi terarah dan terfokus kepada Tuhan. Lalu sesuai dengan agama kita, kita mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan dan terciptalah suatu keharmonisan antar umat (sesama beragama). Doa dan bekerja, merupakan salah satu analogi yang dapat saya gunakan untuk memperjelas kaitan antara agama, spiritualitas dan kegunaannya/manfaatnya. Doa merupakan sarana kita untuk menjaga keiintiman relasi dengan Allah, sedangkan bekerja adalah sarana/fasilitas kita -yang diberikan Allah sebagai jawaban atas doa kita-, untuk mengabulkan segala permohonan kita sesuai dengan kehendakNya.

Nah, dalam bekerja itu sendiri, Allah mengaruniakan segudang talenta yang dapat kita kembangkan atau pun siap pakai, untuk mewujudkan karya Allah di dunia. Kita tak perlu bekerja untuk hidup karena kita hidup untuk bekerja. Hakikat dari kehidupan kita hanyalah bekerja (bekerja di ladangNya). Kita tak perlu bekerja untuk hidup karena sesungguhnya, jika kita hidup di dalamNya dan Ia di dalam kita, Dia lah yang akan mencukupkan segala kebutuhan kita untuk dapat bertahan hidup. Sgala hal yang perlu kita lakukan hanyalah bekerja-bekerja-&bekerja.

Relevansinya untuk kehidupan saya pribadi adalah talenta saya yang ingin saya kembangkan yaitu sebagai berikut.

a.       Bermusik

Dalam hal ini, saya mampu untuk memainkan sgala type of music yang ada dengan alat musik umum apapun yang ada, seperti: Gitar, Keyboard, Bass, Harmonika, Recorder, Piano, dsb.

b.      Memimpin

Dalam hal memimpin, berarti mencakup dua aspek utama yaitu: pemimpin dan terpimpin. Konkretnya adalah saya merupakan Komti dari 02PKT CB dan saya memimpin seluruh anggota kelas saya dan bertanggung jawab atas mereka.

c.       Melayani

Dalam hal melayani yang saya maksudkan disini adalah melayani Tuhan di tempat-tempat ibadah tertentu atau pun di persekutuan interdenominasi manapaun. Dan saya sudah menjadi pelayanan di PO Binus sebagai pemusik serta operator slide.

 

Dari ketiga point abc diatas, saya dengan tegas menyatakan bahwa hal-hal tersebutlah yang dapat saya kembangkan untuk meningkatkan kualitas spiritual pribadi. Untuk itu saya merangkum beberapa nilai-nilai yang erat berkaitan dengan talenta saya diatas.

a.       Kreativitas, ketulusan, kebersamaan, ketaatan.

b.      Kedisiplinan, ketegasan, kekuatan, kebijaksanaan, pengorbanan, kesetiaan.

c.       Kerendahan hati, keikhlasan, kepercayaan, iman, pengharapan, kasih, penguasaan diri.

BERITA BINUS : Mahasiswa BINUS University menjadi Satu-Satunya dan Pertama Mewakili Asia Pasifik dalam Konferensi Pengembangan Aplikasi Tingkat Dunia

Category: Uncategorized
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>